Rabu, 14 Oktober 2009

WIN ON EL

Assalamualaikum wr.wb.
Akhirnya setelah berminggu-minggu, kami berhasil melakukan posting lagi ! Alhamdulillah…. Kali ini terdapat sebuah cerita yang menarik penuh intrik mengenai kisah kocak Edwin cs. Kehidupan nyentriknya bersama saudara yang aneh, KBM di sekolah dengan berbagai kekonyolan tingkat tinggi, sampai kisah persahabatannya dengan El. Ikuti terus cerita ini. Dalam beberapa chapter awal belum akan terlihat masalah maupun perkembangannya. Tetapi memasuki chapter 4 ke atas Anda bisa dapati masalh pelik setiap tokoh yang konyol abis. Insya Allah akan diposting sebanyak 25 chapter pada season pertama ini. Semoga menikmati…
Name : Win On El
Characters : Win, El, Ah, Sim, Duc, Mus, Ind, Mey , dll.
Genre : Humor / Frienship / Tragedy…
CAUTION
Nama tokoh dalam karakter ini hanya plesetan belaka ( kecuali main chara-nya… ). Jika ada kejadian yang sama seperti experience pembaca kami mohon maaf. Itu hanyalah perasaan Anda saja….


WIN ON EL
Chapter 0 : Kakak-Beradik yang Aneh (1)
Tik…tik….. Jam dinding berdetik perlahan di kamar berdinding biru itu. Membisikkan hawa kehidupan kepada penghuninya untuk segera membuka mata menatap dunia penuh cahaya. Tubuh pemuda tersebut masih terbaring pulas di atas ranjangnya menikmati alam mimpi yang mempesona. Meski lambat laun bayangan fantasinya mulai kabur seiring dengan dominasi alam sadar yang perlahan bangkit.
“Uggghh…”, ujarnya pelan sambil mengusap matanya yang masih sayu penuh dengan idep. Mulutnya menganga lebar mengeluarkan bau semerbak aroma jigong yang menyengat. Ia renggangkan tubuhnya agat otot-ototnya menjadi lemas dan tidak kaku.
“Untungnya tadi malem enggak tindihen. Amin”.
Dilemparkan selimut yang menjadi teman semalamnya. Pemuda berambut pendek itupun bergegas bangun dari peristirahatan menuju kamar mandi yang terletak di samping kamar tidur. Dibasuhnya muka kusutnya dengan aliran air yang menyegarkan jiwa raga.
“Ahhh…. Segggeeerr…… He-he, kau tampak cool, Win”, ucap pemuda tadi kepada dirinya sendiri sambil mengelus-elus lesung pipinya di depan cermin. Lagi asyik-ayiknya bernasis-ria, tiba-tiba terdengar suara keras dari lantai bawah.
“Edwin !!! Cepet bangun !! Sarapan udah siap !!”
Muka anak bernama Edwin tadi berubah kusam lagi sambil bergumam di hati.”Huh, menggangu aja orang itu. Jadi gak mood lagi dech buat narsis”. Segera juga Edwin melepaskan serentetan pakaian yang telah melekat di kulitnya selama hamper 12 jam. Baunya minta ampun.. Maklum kelenjar keringatnya memproduksi cairan minyak overdosis sich( husshh AIB !! ). Dengan sigap ia masuk ke shower yang berbau lavender. Kecipak-kecipok…. Suara air jatuh dari ciduk saling bersautan menghasilkan irama yang tidak menentu.
**
Lima belas menit berlalu. Edwin telah menyelesaikan tugas pertamanya hari ini: Mandi. Diusapkan handuk di rambutnya yang mulai acak-acakan sambil mencari seragam abu-abu. Dipakainya seluruh pakaian yang diperlukan dengan rapi dan tertata apik. Sabuknya pun masih sama seperti saat kelas satu dahulu. Hanya kini ukuran celana mulai congklang sampai ke lutut. Bajunya pun terlihat “menyusut”. Rambut Edwin yang tadi acak-acakan dirapikan dengan sisir hijau made in China. Anak bermata cerah ini tidak lupa menyemprotkan parfum bunga lavender di berbagai bagian organ tubuhnya ( lagi- lagi produk buatan China ). Entah mengapa merk China menjadi primadona bagi kalangan remaja khususnya yang masih berstatus pelajar. Mungkin karena murah kali ya… sehingga banyak yang memakainya. Walaupun kualitasnya bisa dibilang ecek-ecek ( buatan Sanden saja bisa lebih baik kok ). Ya begitulah rakyat kita. Melihat dari segi rupiah dan bukan dari keampuhan maupun ketangguhan suatu produk. Seharusnya kita gunakan produk dalam negeri yang mampu mengangkat mata kita di dunia internasional. Siapa lagi yang akan memulai menggunakan produk sendiri jika bukan kita ?
( kembali ke topik. Terlalu banyak ngelanturnya tadi sich..)
Duk…duk..duk.. Langkah sepasang kaki Edwin kini telah menuntunnya di lantai satu. Dilihatnya ruang makan, dan ternyata sudah terpampang beberapa macam jenis kuliner yang menggelorakan perut seisinya.
“Wah, Si Ahy memang jago masak. Joss banget nich ayam gorengya !”, kata Edwin sambil mencium aroma ayam goreng hangat yang terpampang di depan matanya. “Kayaknya kalo kucicipin sedikit gak masalah deh”. Edwin menjulurkan tanganya siap mengambil pupu besar bertepung yangtelah masak itu. Tinggal beberapa centi saja ayam itu berada dalam… BOK !! Sebuah telenan melayang dari belakang dan mendarat di muka Edwin. Membuatnya kaget.
“Gadul…!!!!”, teriak Edwin sambil balik badan memandang oknum perbuatan bejat itu.Sang pemberi pukulan tadi hanya nyengir sambil mengelus-elus rambut lurus Edwin yang jadi acak-acakan lagi. Sementara Edwin hanya menatapnya dengan raut muka njembambik.
“Ngapain sih pake’ acara mukul mukul segala ? Pakai telenan lagi !!”.
“Win,win… Cuma bercanda saja kok kamu marah sih ? Sesama saudara tuch harus akur…”.
“Gimana bisa akur kalau setiap hari digebukin melulu...”.
Setiap pagi selalu saja terdengar percekcokan yang tidak perlu ( baca= konyol ). Yang satu suka manas-manasin suasana, yang satunya lagi tidak mau mengalah. Memunculkan rasa keharmonisan yang berpondasikan ketidakakuran……..
“ Heh, Ahy, Sebagai gantinya kamu sudah mukul aku… Tuh pupu ayamnya buat aku ya ?”, ujar si Edwin.
“E..e.. e..Enak aja. Ini sengaja kubuat sebagai bekal makan di sekolah… Mm..Buat dibarter sama punyanya Memey”, balas Ahy dengan wajah berbunga-bunga.
“He, Memey ? Kau masih terus mengejarnya ya ? Tak kusangka obsesimu kepada anak itu sungguh besar”. Ahy yang wajahnya mulai memerah hanya menjitak kepala adiknya itu. Membuat Edwin meringis kesaikitan lagi.
“Win,win,,, Urusan anak dewasa kamu belum boleh ikut campur”, sindirnya sambil membungkus ayam goreng spesial tadi agar tidak “dimaling” saudara kecilnya, “ingat, aku ini kakakmu yang lebih makan garam dalam kehidupan!”. Tapi, omongan tadi balik disindir sang adik, “ Ahy,Ahy… Dewasa apanya ? Ingat juga, umur kita hanya terpaut tiga menit saja lho”. Ahy yang merasa kalah debat memilih “kabur” manasin motor 2 Tak kesayangannya. Rupanya debat tadi membuat perutnya semakin protes. Dipungutnya berbagai macam hidangan di atas piring kaca dan siap untuk disantap menyerbu rongga pencernaannya.

0 Yorum var:

Posting Komentar