Akhirnya chapter 2 turun gunung juga. Maaf’kan ya atas update yang super late. Maklum saya hanyalah orang penting yang penuh aktivitas panas mengganas. Setiap waktu sering disibukkan belajar ( bohong ) maupun rutinitas lainnya ( yang tidak perlu diceritakan ya…). Ya sudah, nikmati dan hayati saja deretan kata penuh makna di bawah ini.
CHAPTER 2 : Hawa yang Mencekam Jiwa
**
Edwin merasa tenang kembali. Deg-degan yang tadi menjadi sahabat karibnya pergi menjauh lagi. Kali ini nyawanya benar-benar masih pada bungkusnya setelah sebelumnya hampir lepas.
“Ugal-ugalan banget sich….!”, protesnya sambil meletakkan helm di spion motor sebelah kiri.
“Hhhssss… Sudah komentarnya ! Yang penting sekarang masuk kelas dulu !:, balas Ahy dengan menyandarkan motor merahnya. Parkiran sekolah sudah sesak berjubel ratusan kendaraan andalan para siswa. Keduanya melangkahkan kaki melewati gerbang parkir menuju ruang teori.
“Alhamdulillah kita masih punya waktu 5 menit menuju kelas nich”, ucap Ahy melihat jam made in China yang menempel di pergelangan tangan kanan. Sementara Edwin hanya cemberut mrengut manggut-manggut melototi Ahy.
“Hy, lain kali kalau berangkat yang pagian dikit dong”, nasehat Edwin.
“Iya..iya… Udah aku baru males ngomel ama kamu”, cuek Ahy sambil menutup mulut yang menguap.
Derap langkah dua pasang sepatu terus melaju melewati hembusan angin ruang teori. Suasana sudah sepi. Hening. Tiada siswa siswi menanti pagi di luar kelas atau pun di taman rindang bernapaskan daun hijau.
“ Lho, kok sepi banget sich ?”, uajr Edwin diselimuti keheranan mendalam.
“Ah, paling pada di kelas mgerjain PR kali”, balas Ahy melirik kiri kanan mencari manusia lain.
“Tapi hari ini nggak ada yang namanya PR!”, balas adik.
Mereka terus melangkah ke depan. Melewati satu per satu pilar penyangga kehidupan gedung teori yang menjulang tinggi. Tiada tanda-tanda nyawa manusia terdeteksi di setiap lorong yang mereka lalui dengan semangat tinggi. Seketika juga rasa cemas bin waswas menyengat Edwin si adik yang rada penakut itu. Keringat perlahan mengucur perlahan dari kening kinclong maupun ketiak berbedak Edwin.
“Ahy, kok perasaanku nggak enak banget ya”, bisik adik kepada sang kakak.
“ Win, biasa saja. Itu ‘kan hanya perasaanmu. Lagian perasaanmu itu sangatlah tidak peka menghadapi kondisi lingkungan sekitar…”, kata Ahy berusaha memberikan keterangan menenangkan.
“Benar, Hy ! Kali ini rasa yang berbeda”, jelas Edwin sambil menggaruk-garuk belakang leher seakan ada hembusan angin mengganggunya.
“Edwin, Edwin! Sudahlah jangan menjadi paranoid”, ujarnya. Edwin menjadi diam, tetapi tetap tidak tenang. Keduanya masih melangkahkan kaki menginjak bumi ruang teori. Tinggal beberapa meter lagi menuju kelas yang menjadi destinasi. Keadaan masih juga hening. Sepi. Bagai kuburan malam tanpa lantunan musik anak band…
Jreng…Jreng… Rasa itu kembali datang. Tapi kali ini tak hanya Edwin yang terinfeksi. Sang kakak juga mengalami hal sama.
“Edwin, kok aku juga rada gimana gitu ya ?”, tanya Ahy dengan muka pasaran. Edwin langsung memandang wajah tak laku Ahy dengan ekspresi sama.
“ I..iya, sama, Hy.. ‘Kan tadi sudah kubilang…”, jawab Edwin.
DUG !! Seketika juga Ahy menjadi kikuk. Kedua tangannya terkulai lemas tak mampu menopang laju gravitasi. Pupil matanya mengecil bagaikan buih di samudera nan luas. Mulut tebalnya maju mundur mengikuti irama keringat yang menetes meriasi postur wajah Ahy.
“Ngapain Hy ? Kok wajahmu yang hancur tambah remuk ?”
Ahy diam. Masih terhanyut keadaan yang menaunginya. Tidak berapa lama mulut hitamnya bergejolak.
“Win, aku ingin mengatakan sesuatu…”, uajr Ahy dengan serius.
“Mengatakan apa ?”, balas Edwin.
Susana menjadi hening kembali. Hanya terdengar riuh angin yang lewat dan bersiul tinggi. Segera dipegang pundak Edwin dengan kedua tangan lembut Ahy. Dirabanya pundak hingga lengan adiknya itu dengan pelan-pelan tapi menghanyutkan. Kedua pasang mata saling bertatapan penuh penasaran. Daun-daun tua pohon mangga yang berguguran menambah aroma jiwa saling bertautan. Angin kembali datang seolah meniupkan udara kasih sayang yang membuat rambut Ahy dan Edwin menari penuh arti. Aura romantis menyerbak di sekitar kedua insan itu.
“A…..ada apa ?”, ucap Edwin lirih.
“A…aku ingin menyatakan yang sebenarnya padamu”, balas Ahy dengan wajah merah.
“Ka..katakan saja, kakak”. Keduanya diam sejenak. Beberapa detik kemudian Ahy menuturkan ucapan pamungkasnya yang sangat menggetarkan jiwa keduanya.
“Se…sebenarnya…”, mulut Ahy komat-kamit tapi ucapannya putus karena grogi menyelimuti. Tiga puluh satu detik kemudian Ahy benar-benar melontarkan pernyataan “istimewa”nya.
“Edwin, se…sebenarnya……..”,
……………………………………………………………
……………………………………………………………
“JAM KITA TERLAMBAT 15 MENIT !!!!!
Rabu, 18 November 2009
Terlambatkah KITA ?
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)


0 Yorum var:
Posting Komentar